Connect with us

Berita

TEKAD ROHADI UNTUK GAPAI KEADILAN HUKUM, KESAMAAN DI DEPAN HUKUM

Published

on

Rohadi

Sabtu, 14 Desember 2019

jarrakposyogjakarta.com – BERITA tentang terpidana  kasus suap pedangdut Saipul Jamil, Rohadi, terus menuai perhatian publik. Dia seperti tidak pernah lelah memperjuangkan keadilan bagi dirinya. Karenanya kini hampir tiada hari tanpa adanya pemberitaan tentang Rohadi. 

Tapi lebih dari itu, perhatian publik semakin meningkat, karena ada kasus serupa yang baru-baru ini diputus Mahkamah Agung (MA). Dengan membatalkan putusan hakim terdahulu dan menjatuhkan hukuman yang lebih ringan. Yaitu kasus suap mantan Panitera PN Jakarta Selatan. 

Dan orang lalu membandingkan keduanya. Apakah Rohadi akan mendapatkan perlakuan yang sama? Apakah hukuman Rohadi akan ikut disunat MA, seperti yang putusan MA terdahulu?

Mantan Panitera PN Jakarta Utara Rohadi dan mantan Panitera PN Jakarta Selatan  sama-sama tersandung kasus korupsi. Keduanya dijerat dengan pasal yang sama. Yaitu Undang-Undang Tipikor Pasal 12 huruf a. 

Rohadi kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dan divonis 7 tahun penjara. Sementara kasus mantan Panitera PN Jakarta Selatan juga kena OTT KPK namun divonis 4 tahun penjara. 

Entah bagaimana ceritanya, dalam kasus serupa terjadi dua putusan hakim yang jauh berbeda. Sekarang, ketika sama-sama mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) kasusnya, mantan Panitera PN Jakarta Selatan mendapatkan keringanan hukuman. Karena vonis hakim terdahulu yang 4 tahun itu kembali dikoreksi majelis hakim PK di MA, menjadi hanya tiga tahun. 

Sementara Rohadi masih harus menunggu. Apakah akan mendapatkan keringanan hukuman serupa? Yang pasti, dalam upaya permohonan PK kasusnya, Rohadi kini sedang dalam penantian. Berharap MA juga akan memberikan perlakuan yang sama seperti mantan Panitera PN Jakarta Selatan.  

Karena itu, belakangan banyak yang bertanya: Apakah MA juga akan mengabulkan PK Rohadi? Di samping itu, ada pula yang bertanya: Apakah MA berani mengambil keputusan yang berbeda? Keduanya sama-sama panitera pengadilan negeri di Jakarta. Sama-sama kena OTT.

Kita tidak habis pikir, tentunya. Meskipun terlibat langsung dalam kasus suap dan sudah menikmati uang suapnya, namun ada yang divonis lebih ringan. Sedangkan Rohadi yang hanya sebagai penghubung justru diganjar dengan hukuman yang lebih berat. 

Hak untuk Dapatkan Keringanan Hukuman

Dengan segala fakta yang dikemukakannya, menurut keterangan sejumlah pengamat dan pakar hukum di tanah air, mestinya Rohadi berhak mendapatkan keringanan hukuman yang sama. Apalagi putusan hakim terdahulu, yang memberinya ganjaran hukuman 7 tahun penjara, dianggap banyak yang janggal. 

Sebab sebagai seorang penghubung antara hakim dan pengacara Saipul Jamil, menurut sejumlah pakar hukum, Rohadi tidak layak dijerat dengan UU Tipikor Pasal 12 huruf a. Karena salah satu unsur yang membenarkan penggunaan pasal ini adalah bahwa orang itu memiliki kewenangan menurut jabatannya untuk memutuskan berat ringannya hukuman yang akan diberikan, terkait suap itu. Sementara Rohadi hanya penghubung, bukan hakim yang berwenang memutuskan berat ringannya vonis buat Saipul Jamil.  

Membandingkan apa yang dialami Rohadi dan apa yang didapatkan Tarmizi, banyak orang melihat nihilnya kesamaan di depan hukum. Padahal kesamaan di depan hukum (equality before the law / EBL) adalah konsep keadilan hukum yang universal. Hampir semua negara di dunia menganut konsep EBL. Karena itu tidak boleh ada perbedaan perlakuan hukum antara satu orang dengan orang lainnya. Tidak peduli dia kaya atau miskin. Punya kuasa atau tidak. Pejabat tinggi maupun rakyat jelata. 

Sayangnya di negeri ini masih sering terjadi ketidakadilan, karena masih sering berlangsungnya  pelanggaran terhadap konsep EBL itu. 

Suasana diluar sidang Rohadi

Harapan Terakhir Rohadi

Menurut penuturan Rohadi, seandainya MA tidak mengabulkan PK-nya, sebagaimana MA sudah mengabulkan PK Tarmizi, sungguh itu merupakan sesuatu yang sangat menyedihkan baginya. Karenanya dia menganggap hal itu menjadi pelanggaran terhadap konsep EBL atau kesamaan di depan hukum itu. Sebab itu, dia merasa yakin, dengan adanya jurisprudensy Tarmizi itu, permohonannya juga akan dikabulkan MA. Dengan begitu akan dapat dilihat bahwa dalam dunia peradilan kita masih ada yang disebut EBL atau kesamaan di depan hukum. 

Mengapa Rohadi sampai bicara seperti itu? Hemat kita, karena ini adalah harapan terakhirnya. Setelah sebelumnya dia tidak mendapatkan kesamaan di depan hukum. Setelah dia merasa dijadikan tumbal sendirian. Karena dirinya dijerat dengan pasal yang terlalu berat. Yang tidak sesuai dengan bobot kesalahannya. Sementara beberapa pihak lain yang ikut terlibat justru tidak tersentuh hukum. 

Seperti berulang kali dikatakannya, sejak awal terkuaknya kasus ini, dia sudah merasakan tidak mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. Hal itu diungkapkannya dengan beberapa alasan:

Pertama, karena dia sama sekali tidak menikmati sepeser pun uang suap itu. Dengan bahasanya, Rohadi mengatakan: “Uang yang Rp. 50 juta itu begitu saya terima langsung saya serahkan kepada (panitera) Rina Pertiwi. Uang itu akan digunakan untuk plesiran para hakim bersama para karyawan PN Jakut ke Solo. Karena dianggap kurang, saya talangi dengan uang saya sendiri sebesar Rp. 50 juta lagi. Bahkan untuk menyewa bis wisata Dwi Dua Putera untuk jalan-jalan di Solo, saya keluar uang lagi sebesar Rp. 16 juta. Jadi merekalah yang menikmati uang itu. Saya tidak ikut ke Solo, tapi saya malah keluar uang banyak.” 

Sedangkan uang yang Rp. 250 juta, katanya, rencananya akan diantarkan kepada Hakim Ifa Sudewi yang sudah pindah ke Surabaya. Tapi karena dia sudah keburu kena OTT KPK, maka uang itu tidak sempat diantarkan kepada hakim yang memutus perkara Saipul Jamil itu. Karena sudah disita KPK. “Meskipun begitu, para hakim, panitera dan karyawan yang ikut plesiran ke Solo itu kan sudah menikmati uang yang Rp. 50 juta, berikut tambahan dari saya itu,” begitu Rohadi memaparkan berulang kali. 

Kedua, katanya, karena memang hanya dia saja yang dikorbankan dalam kasus itu. Awalnya, dia memang berusaha melindungi sejumlah hakim yang terlibat. Setelah beberapa kali didatangi oleh Hakim Tinggi Jawa Barat Karel Tuppu. Tapi setelah tiga tahun lebih mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung, ternyata tidak seorang pun dari koleganya di PN Jakut itu yang peduli dan datang menengoknya. Semuanya seperti lepas tangan dan tidak peduli terhadap nasib dirinya. 

Karena itulah, hemat kita, Rohadi ingin membongkar kasus itu semuanya secara transparan. Sebagaimana bahasa protes Rohadi: Ternyata Konsep EBL atau kesamaan di depan hukum itu hanyalah buah bibir orang-orang pintar. Tapi sulit didapatkan dalam kenyataan. Meskipun keadilan itu tetap dia harapkan akan dia peroleh dari putusan PK di MA, namun hal itu sejauh ini memang sesuatu yang sangat mahal untuk terwujud di negeri ini. Sesuatu yang karenanya harus terus diperjuangkan seluruh anak bangsa. Sebagaimana tekad dan keinginan luhur Rohadi. Kini dan di masa yang akan datang. (*)

Oleh: Gunawan 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Update Corona Per 8 Juni: Kasus Positif 32.033, Sembuh 10.904, Meninggal 1.883

Published

on

By

Yogjakarta -JarrakposYogyakarta.com

Senin ( 8/6 ). Peningkatan angka kasus positif virus Corona(COVID-19) di Indonesia semakin bertambah namun kabar gembiranya angka kesembuhan juga terus mengalami peningkatan.

Masyaakat bisa mengakses langsung secara mandiri di situs covid19.go.id serta beritanya update disampaikan langsung oleh juru bicara pemerintah terkait penanganan COVID-19, Achmad Yurianto. Total ada 32.033 kasus positif yang terkonfirmasi pada situs ini dengan rincian jumlah tersebut, 10.904 pasien yang dirawat dinyatakan sembuh dan 1.883 orang meninggal dunia. Data ini diperbarui setiap harinya dengan cut off data pukul 12.00 WIB.

Data hari minggu sebelumnya berdasar pantauan tercatat ada 31.186 kasus positif Corona di Indonesia, 10.498 orang sembuh, dan 1.851 meninggal dunia, rasio pasien sembuh jauh lebih besar daripada yang meninggal dunia.

Editor : RR
Pewarta : gugun

Continue Reading

Berita

Lima pelaku tawuran di amankan di polres metro jakarta barat

Published

on

By

Jakarta – jarrakposyogjakarta – Lima pelaku tawuran di Kampung Duri Cengkareng Jakarta Barat, berhasil diamankan Tim Pemburu Preman Polres Metro Jakarta Barat, pada Minggu Dini hari (07/06/2020).

Awalnya Tim Pemburu Preman Polres Metro Jakarta Barat dibawah pimpinan Briptu Helmy bersama anggotanya mendapatkan laporan dari masyarakat akan adanya tawuran.

“Dari laporan tersebut, tim langsung melaksanakan patroli,”ujar Kasat Samapta Polres Metro Jakarta Barat Akbp Agus Rizal.

Kemudian tim berhasil mengamankan 5 orang remaja bersama barang bukti senjata tajam.

“Selanjutnya kita serahkan kelima pelaku tersebut ke Polsek Cengkareng Polres Jakarta Barat guna pemeriksaan lebih lanjut,” terangnya.

Agus menjelaskan kami akan terus melakukan patroli ke tempat tempat yang rawan akan tindakan kriminal

” Bagi masyarakat yang menemukan tindak kejahatan jangan ragu untuk melaporkan kepada pihak berwajib ” Ujarnya

Sementara Kapolsek Cengkareng Kompol H Khoiri saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya menerima penyerahan lima pemuda yang diduga hendak akan melakukan tawuran

” Saat ini kelima pemuda tersebut sedang kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut ” Tuturnya.

Sumber :

( Humas Polres Metro Jakarta Barat )

Wartawan : Seno

Editor: RR

Continue Reading

Berita

LANGKAH AWAL MUSISI YOGYAKARTA UNTUK MENGADAKAN SILATURAHMI DI IMOGIRI YOGYA.

Published

on

By

LANGKAH AWAL MUSISI YOGYAKARTA UNTUK MENGADAKAN SILATURAHMI DI IMOGIRI YOGYA.

Yogyakarta – jarrakposyogyakarta.com – 5 Juni 2020 – Dampak dari pandemi COVID 19 yang sedang terjadi selama ini memang banyak sekali menimbulkan kerugian bagi penduduk dunia khususnya di Indonesia, sebagaimana yang dikatakan para musisi Yogyakarta yang baru saja selesai mengadakan acara silaturahmi sesama musisi Yogyakarta yang diadakan di Cafe Red Corner (IMOGIRI Yogyakarta).

Mereka menyatakan bahwa semenjak adanya peristiwa merebaknya wabah virus corona di dunia ini, para musisi di Yogyakarta jarang sekali melakukan kegiatan bermusik dan berkumpul bersama (silaturahmi) dengan sesama musisi Yogyakarta seperti sebelumnya.

Acara ajang silaturahmi ini merupakan suatu kerinduan tersendiri bagi para musisi Yogyakarta yang selama ini seperti terisolasi karena imbas dari COVID 19 yang sedang terjadi selama ini.

Para musisi yang hadir dalam acara tersebut diantaranya adalah musisi penghubung antara Cafe,hotel dan restoran yang ada di sekitar wilayah daerah Istimewa Yogyakarta.

Bapak wisuda selaku pengelola acara tersebut menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk silaturahmi kami untuk kembali berinteraksi kepada sesama musisi di Yogyakarta agar tetap terjalin ikatan persaudaraan antara kami.

Beberapa musisi yang hadir dalam acara ini diantaranya adalah BALAKOSA BAND, BRAMSTEVE, RAY NIMAS, WISNU WAHYU SANTOSA, PARLY GRA, DIDIT, PUTRI, TOMY, AYIK, TAMHIR, YUDHA dan IRWAN yang turut serta memeriahkan even tersebut.

Sumber : Elwa

JARRAKPOSDKI
AJENG

Editor : RR

Continue Reading

Trending